Minggu, 31 Maret 2013

Shalat



Shalat 


Bismillahirrahmanirrahim...   Pada kesempatan kali ini kita akan barkumur-kumur suatu masalah yang mana masalah ini adalah suatu kewajiban bagi kita dan berdosa hukumnya jika kita meninggalkannya, yea ..ia adalah shalat.     Shalat merupakan tali hubungan yang kuat antara seorang hamba dengan tuhannya. Hubungan yang mencerminkan kehinaan seorang hamba dan keagungan tuhannya,yang bersifat  langsung  tanpa perantara dari siapa pun. Oleh karena itu shalat di letakkan dalam kedudukan yang tinggi dan sangat terhormat dan tiada ada bandingnya. Hal itu dijelaskan secara tegas oleh sabda rasulullah saw :
رأس الامر الاسلام وعموده الصلاة وذروة سنامه الصلاة
“Pokok segala urusan adalah islam dan tiangnya adalah shalat dan titik puncaknya adalah jihad”.
   Shalat adalah tiang agama yang mana agama tidak dapat berdiri tegak denagn sendirinya dan jika kita tidak melajsanakan shalat maka agamapun akan rubuh. Begitu juga dengan sebuah bangunan jika tiang bangunan itu rubuh, maka akan runtuh pula bangunan yang ada di atasnya, karena shalat adalah amalan yang pertama kali di hisab di akhirat kelak sebagaimana sabda Rasulullah saw :
أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة ,فان صلحت صلح سائر عمله,وإن فسدت فسد سائر عمله.
“Amalan yang pertama kali di hisab di akhir kelak dari seseprang pada hari kiamat kelak adalah shalat, jika shalatnya itu baik, akan baik pula seluruh amalnya. Dan jika rusak amalnya itu, akan rusak pula seluruh amal perbuatannya”
   Oleh karena itu, baik atau rusaknya amal perbuatan seseorang tergantung pada baik atau tidaknya shalat yang ia kerjakan.
   Di antara bukti keagungan shalat adalah bahwa Allah Ta’ala tidak memerintahkan pelaksanaan shalat di bumi melalui perantaraan malaikat jibril, melainkan ia mewajibkan shalat itu langsung dan tanpa  perantara siapa pun, yaitu pada malam isra’ mi’raj diperintahkan kepada seluruh umat manusia melalui nabi Muhammad saw di atas langit ke tujuh sebanyak 17 rakaat dalam 5 waktu, itu pun setelah Rasulullah beberapa kali mengajukan banding kepada Allah SWT atas banyaknya rakaat yang harus dikerjakan karena pertama kali Allah memerintahkan shalat sebanyak 50 waktu (apa enggak teler kalau kayak gitu hehe).
Sesungguhnya Allah SWT yang Maha Mulia nan Bijaksana sangat murka dan mengancam akan menimpakan kecelakaan terhadap orang yang menyia-nyiakan shalat, sebagaimana yang terungkap dalam firman-Nya:
 فخلف منٌ بعدهم خلف اضاعوا الصلاة واتبعوالشهوات فسوف يلقون غيا (سورة مريم)
“Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalatnya dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemuai kesesatan.”(Q.S maryam:59)
فويل للمصلين (4) الذين عن صلاتهم ساهون(5) ( الماعون)
 “Maka kecelakaan bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.”
            Dalam riwayat yang diketengahkan oleh ibnu jarir dari hadist ummu salamah: sesungguhnya  ketika nabi saw hendak menghadap allah (wafat) belau bersabda : “ingatlah shalat, shalat, dan shalat.”
Shalat adalah salah satu rukun islam yang sangat penting, sehingga tak seorang pun di benarkan dan direkomendasikan untuk meninggalkannya bahkan orang sakit separah apapun kondisinya ia tetap wajib untuk melaksakan shalat sesuai dengan kemampuannya, jika ia tidak bisa berdiri maka diperbolehkan untuk melaksanakannya  dengan duduk, jika ia juga tidak bisa duduk maka diperbolehkan juga tidur melaksanakanya dan kalau dengan tidur pun tidak bisa lagi yea makin gampang cukup dengan menshalatkannya maka urusan pun menjadi beres hehe.
Karena pentingnya shalat, hingga celaka besar bagi yang meninggalkannya. Maka, ketika seorang yang suka meninggalkan shalat itu mati, ia dimasukkan ke dalam perut bumi, lalu ia menjerit-jerit pilu. Tetapi tak seoarang pun yang peduli, bahkan bumi berkata kepadanya, “Kamu dahulu tertawa terbahak-bahak di atas punggungku, sekarang kamu menjerit pilu di dalam perutku. Kamu dahulu memakan yang enak-enak di atas punggungku, sekarang cacing di perutku gantian yang memakan dagingmu. Kamu dahulu berselimutkan kain-kain indah dan sutra, sekarang kamu hanya berselimut kan debu. Kamu dahulu tidak senang mencium bau-bau yang tidak sedap, sekarang segala sesuatu tidak mau mencium baumu. Kamu dahulu sombong di atas punggungku, sekarang kamu tidak punya teman sama sekali selain cacing-cacing yang (unyu-unyu dan imut-imut) yang ada di dalam perut ku. Kamu dahulu meninggalkan shalat di atas punggungku, sekarang aku suguhi bara-bara api neraka, sehingga bagaimanapun posisimu, bara api itu ada di sekelilingmu.”
Dalam sebuah riwayat yang menerangkan tentang beratnya dosa meninggalkan shalat, dikisahkan seorang perempuan datang menemui Nabi musa as sambil menangis dan mengadu kepada beliau tentang dosa berat yang telah dilakukannya karena ia ingin bertaubat. Lalu nabi Musa as bertanya kepadanya, “Dosa apa yang telah engkau lakukan, wahai saudariku?”.
“Aku telah berzina dan anak hasil perzinahanku aku bunuh dengan mencekik lehernya.” Jawab si wanita dengan terisak.
 Seketika nabi Musa marah kepada si perempuan kemudian ia mengusir nya dari rumahnya (nabi musa as) sambil berkata setengah membentak,
“Betapa bejat perlakuanmu wahai wanita. Pergilah kamu dari rumah ini! Jangan sampai musibah menimpa rumah ini karena kehadiranmu. Lalu si perempuan pulang dengan nangis terbahak-bahak. Setelah wanita itu pergi datanglah malaikat Jibril menemui nabi Musa as dan berkata, “Mengapa kamu mengusir wanita yang ingin bertaubat tadi, padahal Allah SWT maha menerima taubat”.
“Apa yang dilakukannya sangatlah keji. Ia berzina dan membunuh anak hasil perzinahan tersebut” jawab nabi Musa as.
“Tahukah kamu ada dosa yang lebih berat daripada dosa yang telah dilakukan oleh wanita tadi?”
“Dosa apakah itu wahai Jibril?”
“Dosa mereka yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tidak menyesalinya sama sekali”
Na’udzubillah. Bahkan dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan bahwa dosa meninggalkan shalat dengan sengaja lebih berat daripada membunuh 70 orang nabi dan berzina dengan ibu kandung di dalam ka’bah. Sekarang setelah membaca kumur-kumur di atas barusan, kita harus berpikir berkali-kali untuk  meninggalkan shalat.
Sekarang ini banyak orang yang salah menafsirkan ayat-ayat  Al-Qur’an dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kemauan untuk mendapatkan ilmu, misalnya potongan ayat berikut ini:
إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر                                                                                     
 “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar”
 tapi mereka mengganti  kata
إن (sesungguhnya) menjadi kata  عند(ketika)
bukannya : ان الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر                 
melainkan:  عند الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر
Jadi hanya ketika shalat saja ia terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, sedangkan setelah shalat entah apa yang ia lakukan.
Pada dasarnya shalat merupakan petunjuk hati, pengabul hajat orang mukmin atas restu Allah dan bisa mencuci dosa dan meleburkan kesalahan. Jika ada seseorang yang sangat rajin melaksanakan shalat tapi rajin juga melaksanakan maksiat, maka shalatnya belum benar dan tidak bermanfaatlah  ibadah yang ia kerjakan.
NANTIKAN KUMUR-KUMUR KITA SELANJUTNYA...!!!